Teknologi
11 Aug 2026
22
Benarkah Batu Bata Zaman Kerajaan Direkatkan dengan Putih Telur?
Ada satu cerita yang cukup populer tentang teknologi bangunan pada masa kerajaan dahulu: batu bata dan batu bangunan konon direkatkan menggunakan putih telur.
Cerita ini sering dikaitkan dengan bangunan-bangunan kuno di Nusantara. Karena masyarakat pada masa itu belum mengenal semen Portland seperti yang digunakan sekarang, putih telur dianggap sebagai salah satu bahan alami yang mampu membuat bangunan tetap kokoh selama ratusan tahun.
Tetapi, apakah benar demikian?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana “iya” atau “tidak”.
Putih telur memang pernah digunakan dalam bahan mortar kuno
Penggunaan putih telur sebagai bahan tambahan mortar bukan sekadar cerita modern.
Dalam penelitian mengenai traditional Chinese egg white mortar, para peneliti menemukan bukti bahwa mortar tradisional yang menggunakan putih telur memang pernah digunakan dalam berbagai bangunan kuno di Tiongkok.
Penelitian tersebut bahkan tidak hanya mengandalkan cerita sejarah. Para peneliti melakukan pemeriksaan terhadap 149 sampel mortar kuno menggunakan metode kimia dan enzimatik. Protein ditemukan pada 32 sampel mortar. Penelitian lain juga berhasil mendeteksi jejak putih telur dalam mortar kuno menggunakan metode ELISA dengan tingkat sensitivitas yang sangat tinggi.
Artinya, secara ilmiah kita memang mempunyai bukti bahwa protein dari putih telur pernah menjadi bagian dari teknologi mortar tradisional pada masa lalu.
Jadi, gagasan bahwa manusia zaman dahulu menggunakan bahan organik seperti putih telur dalam konstruksi bukanlah sesuatu yang mustahil.
Namun ada persoalan penting ketika kita membawanya ke Indonesia.
Apakah candi-candi di Jawa menggunakan putih telur?
Di sinilah kita harus berhati-hati.
Salah satu anggapan yang sangat populer adalah bahwa batu Candi Borobudur direkatkan menggunakan putih telur.
Berdasarkan keterangan dari pengkaji dan pelestari Borobudur, tidak terdapat informasi dalam literatur mengenai Borobudur yang menunjukkan penggunaan putih telur sebagai perekat. Struktur batu Borobudur justru menggunakan berbagai teknik sambungan dan sistem penguncian atau interlock.
Batu-batunya dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat saling mengunci. Teknik tersebut bekerja seperti potongan puzzle yang dirancang agar tidak mudah bergeser.
Karena itu, mengatakan bahwa “Borobudur berdiri kokoh karena direkatkan dengan putih telur” adalah klaim yang tidak didukung bukti yang cukup.
Bahkan Fakultas Ilmu Budaya UGM pernah mengangkat persoalan ini sebagai salah satu kesalahpahaman yang beredar di masyarakat mengenai teknologi pembangunan candi Jawa Kuno. Penjelasan mereka menekankan sistem pengait atau interlock sebagai salah satu teknologi konstruksi candi.
Lalu bagaimana dengan bangunan bata?
Persoalannya menjadi lebih menarik ketika kita membicarakan bangunan yang menggunakan batu bata, khususnya peninggalan di Jawa Timur.
Tidak semua bangunan kuno menggunakan sistem konstruksi yang sama. Batu bata membutuhkan teknik penyusunan dan pengikat yang berbeda dibandingkan blok batu besar seperti yang digunakan pada banyak bagian Borobudur.
Salah satu sumber yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bahkan mencatat adanya teknik pada Candi Brahu, Jawa Timur, yang menggunakan serbuk batu bata sebagai bahan perekat.
Caranya cukup sederhana tetapi menarik.
Dua buah batu bata digosokkan sehingga menghasilkan serbuk bata. Serbuk tersebut kemudian diberi air dan digunakan dalam proses penyusunan bata. Teknik semacam ini dikenal sebagai sistem kosot dan masih memiliki kemiripan dengan teknik tradisional yang dikenal di Bali. Sumber yang sama juga secara eksplisit menyatakan bahwa klaim mengenai putih telur sebagai perekat candi belum memiliki pembuktian penelitian yang memadai.
Jadi, untuk konteks bangunan bata Jawa Kuno, kita tidak bisa begitu saja mengganti fakta tersebut dengan cerita “batu bata direkatkan putih telur”.
Tetapi ada contoh di Nusantara yang memang menggunakan putih telur
Menariknya, ada pula bangunan bersejarah di Indonesia yang secara tradisional diketahui menggunakan putih telur sebagai bagian dari bahan perekat.
Salah satu contohnya adalah Masjid Jami Tua Palopo di Sulawesi Selatan.
Masjid tersebut dibangun pada 1604 dan merupakan peninggalan Kerajaan Luwu. Dindingnya menggunakan batu padas yang menurut keterangan sejarah lokal direkatkan menggunakan campuran putih telur dan kapur.
Penelitian mengenai penggunaan material batu alam pada bangunan masjid juga mencatat informasi serupa mengenai Masjid Jami Tua Palopo dan menyebut campuran putih telur sebagai bahan perekat batu.
Ini memberikan contoh penting bahwa penggunaan putih telur dalam konstruksi tradisional memang dikenal di Nusantara, tetapi tidak berarti seluruh candi dan bangunan kerajaan menggunakan teknik yang sama.
Mengapa putih telur bisa membantu mortar?
Secara kimia, putih telur bukan sekadar cairan bening.
Putih telur atau albumen mengandung berbagai jenis protein. Protein tersebut memiliki sifat yang memungkinkan terjadinya interaksi dengan material lain.
Penelitian modern terhadap mortar kapur dengan tambahan putih telur menunjukkan bahwa putih telur dapat memengaruhi sifat fisik dan mekanis mortar.
Dalam salah satu penelitian, mortar kapur dibuat dengan beberapa kadar putih telur. Hasilnya menunjukkan bahwa penambahan putih telur sampai kadar tertentu dapat meningkatkan kuat tekan dan kuat lentur mortar. Pada penelitian tersebut, performa terbaik ditemukan pada campuran dengan sekitar 6% putih telur, sedangkan kadar yang lebih tinggi justru menyebabkan penurunan performa.
Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa putih telur memang secara material dapat memengaruhi mortar.
Namun sekali lagi, hasil eksperimen modern tidak boleh langsung dianggap sebagai resep yang pasti digunakan oleh tukang bangunan pada masa kerajaan.
Putih telur bukan berarti “semen zaman dahulu”
Ada kesalahpahaman lain yang perlu diluruskan.
Putih telur bukanlah semen dalam pengertian modern.
Semen Portland bekerja melalui proses kimia hidrasi yang menghasilkan material pengikat dengan karakteristik tertentu. Putih telur memiliki mekanisme yang berbeda.
Dalam mortar tradisional, putih telur lebih tepat dipandang sebagai bahan tambahan organik atau binder/modifier yang dicampurkan bersama bahan pengikat utama seperti kapur atau material mineral lainnya.
Penelitian modern bahkan menunjukkan bahwa protein dari putih telur dapat memengaruhi pori-pori mortar dan mengurangi masuknya air melalui pembentukan lapisan protein yang bersifat lebih hidrofobik setelah mengalami perubahan struktur.
Dengan kata lain, kekuatan sebuah mortar tradisional tidak otomatis berasal dari putih telur saja.
Komposisi kapur, pasir, bahan mineral, air, cara pencampuran, proporsi bahan, proses pengeringan, hingga teknik penyusunan semuanya ikut menentukan.
Teknologi kuno ternyata tidak hanya mengandalkan satu bahan
Inilah bagian yang sering hilang ketika cerita tentang bangunan kerajaan disebarkan di media sosial.
Teknologi konstruksi masa lalu sebenarnya sangat beragam.
Ada bangunan yang menggunakan:
- kapur sebagai bahan pengikat,
- tanah liat,
- serbuk batu bata,
- bahan pozzolan,
- material organik,
- teknik interlock,
- sambungan mekanis,
- serta kombinasi berbagai material.
Bahkan penelitian terhadap mortar tradisional Tiongkok menunjukkan adanya berbagai jenis bahan tambahan organik, termasuk putih telur, beras ketan, minyak tung, dan bahan lainnya.
Jadi tidak ada satu “resep rahasia kerajaan” yang berlaku untuk seluruh bangunan kuno.
Lalu mengapa cerita putih telur begitu populer?
Kemungkinan besar karena cerita tersebut mudah dipahami.
Bayangkan masyarakat ratusan tahun lalu membangun bangunan besar tanpa semen modern, tetapi bangunannya masih dapat bertahan hingga sekarang.
Cerita “mereka menggunakan putih telur sebagai perekat” terdengar luar biasa dan mudah diingat.
Masalahnya, cerita yang awalnya mungkin berasal dari praktik konstruksi tertentu kemudian sering diperluas menjadi klaim bahwa seluruh candi di Nusantara menggunakan putih telur.
Padahal bukti arkeologi menunjukkan bahwa teknik konstruksi setiap bangunan dapat berbeda.
Borobudur, misalnya, memiliki sistem sambungan batu yang sangat kompleks dan tidak membutuhkan perekat seperti semen untuk membuat seluruh strukturnya berdiri.
Sementara pada bangunan lain, penggunaan mortar atau bahan perekat memang dapat ditemukan.
Bahkan teknologi ini masih diteliti sampai sekarang
Menariknya, penelitian terhadap mortar berbahan putih telur belum berhenti sebagai kajian sejarah.
Pada 2026, penelitian yang diterbitkan di jurnal Materials Advances dari Royal Society of Chemistry menguji mortar berbasis kapur yang dimodifikasi menggunakan putih telur dan bubuk kulit telur untuk kebutuhan konservasi bangunan bersejarah.
Penelitian tersebut menemukan bahwa putih telur membantu mempertahankan kemampuan kerja mortar dan dapat mengurangi masuknya air melalui struktur pori mortar.
Artinya, ketertarikan terhadap bahan konstruksi tradisional bukan sekadar romantisme terhadap masa lalu.
Para ilmuwan memang sedang mencoba memahami mengapa bahan-bahan tradisional tertentu bisa bekerja dan bagaimana prinsipnya dapat digunakan dalam konservasi bangunan bersejarah.
Kesimpulan: mitosnya ada, tetapi faktanya lebih menarik
Jadi, apakah orang zaman kerajaan menggunakan putih telur untuk konstruksi?
Ya, penggunaan putih telur dalam mortar tradisional memang memiliki bukti ilmiah di beberapa tradisi konstruksi dan terdapat pula contoh sejarah di Nusantara yang mencatat penggunaannya.
Tetapi apakah kita boleh mengatakan bahwa semua batu bata candi di Jawa direkatkan menggunakan putih telur?
Tidak.
Untuk Borobudur, bukti yang ada justru menunjukkan penggunaan teknik sambungan dan sistem interlock, bukan perekat putih telur. Untuk beberapa bangunan bata Jawa Kuno, terdapat pula bukti atau keterangan mengenai penggunaan serbuk bata dan teknik konstruksi lainnya.
Jadi, teknologi nenek moyang kita sebenarnya jauh lebih menarik daripada sekadar cerita “candi dibangun pakai putih telur”.
Mereka tidak memiliki semen Portland seperti sekarang, tetapi mereka memiliki pengetahuan tentang material, sambungan, gaya tekan, kelembapan, dan teknik penyusunan yang disesuaikan dengan bahan serta kondisi lingkungan.
Dan justru di situlah nilai sebenarnya dari teknologi konstruksi masa lalu:
bukan karena mereka memiliki satu bahan ajaib, tetapi karena mereka memahami bagaimana berbagai bahan bekerja bersama.
Cerita ini sering dikaitkan dengan bangunan-bangunan kuno di Nusantara. Karena masyarakat pada masa itu belum mengenal semen Portland seperti yang digunakan sekarang, putih telur dianggap sebagai salah satu bahan alami yang mampu membuat bangunan tetap kokoh selama ratusan tahun.
Tetapi, apakah benar demikian?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana “iya” atau “tidak”.
Putih telur memang pernah digunakan dalam bahan mortar kuno
Penggunaan putih telur sebagai bahan tambahan mortar bukan sekadar cerita modern.
Dalam penelitian mengenai traditional Chinese egg white mortar, para peneliti menemukan bukti bahwa mortar tradisional yang menggunakan putih telur memang pernah digunakan dalam berbagai bangunan kuno di Tiongkok.
Penelitian tersebut bahkan tidak hanya mengandalkan cerita sejarah. Para peneliti melakukan pemeriksaan terhadap 149 sampel mortar kuno menggunakan metode kimia dan enzimatik. Protein ditemukan pada 32 sampel mortar. Penelitian lain juga berhasil mendeteksi jejak putih telur dalam mortar kuno menggunakan metode ELISA dengan tingkat sensitivitas yang sangat tinggi.
Artinya, secara ilmiah kita memang mempunyai bukti bahwa protein dari putih telur pernah menjadi bagian dari teknologi mortar tradisional pada masa lalu.
Jadi, gagasan bahwa manusia zaman dahulu menggunakan bahan organik seperti putih telur dalam konstruksi bukanlah sesuatu yang mustahil.
Namun ada persoalan penting ketika kita membawanya ke Indonesia.
Apakah candi-candi di Jawa menggunakan putih telur?
Di sinilah kita harus berhati-hati.
Salah satu anggapan yang sangat populer adalah bahwa batu Candi Borobudur direkatkan menggunakan putih telur.
Berdasarkan keterangan dari pengkaji dan pelestari Borobudur, tidak terdapat informasi dalam literatur mengenai Borobudur yang menunjukkan penggunaan putih telur sebagai perekat. Struktur batu Borobudur justru menggunakan berbagai teknik sambungan dan sistem penguncian atau interlock.
Batu-batunya dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat saling mengunci. Teknik tersebut bekerja seperti potongan puzzle yang dirancang agar tidak mudah bergeser.
Karena itu, mengatakan bahwa “Borobudur berdiri kokoh karena direkatkan dengan putih telur” adalah klaim yang tidak didukung bukti yang cukup.
Bahkan Fakultas Ilmu Budaya UGM pernah mengangkat persoalan ini sebagai salah satu kesalahpahaman yang beredar di masyarakat mengenai teknologi pembangunan candi Jawa Kuno. Penjelasan mereka menekankan sistem pengait atau interlock sebagai salah satu teknologi konstruksi candi.
Lalu bagaimana dengan bangunan bata?
Persoalannya menjadi lebih menarik ketika kita membicarakan bangunan yang menggunakan batu bata, khususnya peninggalan di Jawa Timur.
Tidak semua bangunan kuno menggunakan sistem konstruksi yang sama. Batu bata membutuhkan teknik penyusunan dan pengikat yang berbeda dibandingkan blok batu besar seperti yang digunakan pada banyak bagian Borobudur.
Salah satu sumber yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bahkan mencatat adanya teknik pada Candi Brahu, Jawa Timur, yang menggunakan serbuk batu bata sebagai bahan perekat.
Caranya cukup sederhana tetapi menarik.
Dua buah batu bata digosokkan sehingga menghasilkan serbuk bata. Serbuk tersebut kemudian diberi air dan digunakan dalam proses penyusunan bata. Teknik semacam ini dikenal sebagai sistem kosot dan masih memiliki kemiripan dengan teknik tradisional yang dikenal di Bali. Sumber yang sama juga secara eksplisit menyatakan bahwa klaim mengenai putih telur sebagai perekat candi belum memiliki pembuktian penelitian yang memadai.
Jadi, untuk konteks bangunan bata Jawa Kuno, kita tidak bisa begitu saja mengganti fakta tersebut dengan cerita “batu bata direkatkan putih telur”.
Tetapi ada contoh di Nusantara yang memang menggunakan putih telur
Menariknya, ada pula bangunan bersejarah di Indonesia yang secara tradisional diketahui menggunakan putih telur sebagai bagian dari bahan perekat.
Salah satu contohnya adalah Masjid Jami Tua Palopo di Sulawesi Selatan.
Masjid tersebut dibangun pada 1604 dan merupakan peninggalan Kerajaan Luwu. Dindingnya menggunakan batu padas yang menurut keterangan sejarah lokal direkatkan menggunakan campuran putih telur dan kapur.
Penelitian mengenai penggunaan material batu alam pada bangunan masjid juga mencatat informasi serupa mengenai Masjid Jami Tua Palopo dan menyebut campuran putih telur sebagai bahan perekat batu.
Ini memberikan contoh penting bahwa penggunaan putih telur dalam konstruksi tradisional memang dikenal di Nusantara, tetapi tidak berarti seluruh candi dan bangunan kerajaan menggunakan teknik yang sama.
Mengapa putih telur bisa membantu mortar?
Secara kimia, putih telur bukan sekadar cairan bening.
Putih telur atau albumen mengandung berbagai jenis protein. Protein tersebut memiliki sifat yang memungkinkan terjadinya interaksi dengan material lain.
Penelitian modern terhadap mortar kapur dengan tambahan putih telur menunjukkan bahwa putih telur dapat memengaruhi sifat fisik dan mekanis mortar.
Dalam salah satu penelitian, mortar kapur dibuat dengan beberapa kadar putih telur. Hasilnya menunjukkan bahwa penambahan putih telur sampai kadar tertentu dapat meningkatkan kuat tekan dan kuat lentur mortar. Pada penelitian tersebut, performa terbaik ditemukan pada campuran dengan sekitar 6% putih telur, sedangkan kadar yang lebih tinggi justru menyebabkan penurunan performa.
Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa putih telur memang secara material dapat memengaruhi mortar.
Namun sekali lagi, hasil eksperimen modern tidak boleh langsung dianggap sebagai resep yang pasti digunakan oleh tukang bangunan pada masa kerajaan.
Putih telur bukan berarti “semen zaman dahulu”
Ada kesalahpahaman lain yang perlu diluruskan.
Putih telur bukanlah semen dalam pengertian modern.
Semen Portland bekerja melalui proses kimia hidrasi yang menghasilkan material pengikat dengan karakteristik tertentu. Putih telur memiliki mekanisme yang berbeda.
Dalam mortar tradisional, putih telur lebih tepat dipandang sebagai bahan tambahan organik atau binder/modifier yang dicampurkan bersama bahan pengikat utama seperti kapur atau material mineral lainnya.
Penelitian modern bahkan menunjukkan bahwa protein dari putih telur dapat memengaruhi pori-pori mortar dan mengurangi masuknya air melalui pembentukan lapisan protein yang bersifat lebih hidrofobik setelah mengalami perubahan struktur.
Dengan kata lain, kekuatan sebuah mortar tradisional tidak otomatis berasal dari putih telur saja.
Komposisi kapur, pasir, bahan mineral, air, cara pencampuran, proporsi bahan, proses pengeringan, hingga teknik penyusunan semuanya ikut menentukan.
Teknologi kuno ternyata tidak hanya mengandalkan satu bahan
Inilah bagian yang sering hilang ketika cerita tentang bangunan kerajaan disebarkan di media sosial.
Teknologi konstruksi masa lalu sebenarnya sangat beragam.
Ada bangunan yang menggunakan:
- kapur sebagai bahan pengikat,
- tanah liat,
- serbuk batu bata,
- bahan pozzolan,
- material organik,
- teknik interlock,
- sambungan mekanis,
- serta kombinasi berbagai material.
Bahkan penelitian terhadap mortar tradisional Tiongkok menunjukkan adanya berbagai jenis bahan tambahan organik, termasuk putih telur, beras ketan, minyak tung, dan bahan lainnya.
Jadi tidak ada satu “resep rahasia kerajaan” yang berlaku untuk seluruh bangunan kuno.
Lalu mengapa cerita putih telur begitu populer?
Kemungkinan besar karena cerita tersebut mudah dipahami.
Bayangkan masyarakat ratusan tahun lalu membangun bangunan besar tanpa semen modern, tetapi bangunannya masih dapat bertahan hingga sekarang.
Cerita “mereka menggunakan putih telur sebagai perekat” terdengar luar biasa dan mudah diingat.
Masalahnya, cerita yang awalnya mungkin berasal dari praktik konstruksi tertentu kemudian sering diperluas menjadi klaim bahwa seluruh candi di Nusantara menggunakan putih telur.
Padahal bukti arkeologi menunjukkan bahwa teknik konstruksi setiap bangunan dapat berbeda.
Borobudur, misalnya, memiliki sistem sambungan batu yang sangat kompleks dan tidak membutuhkan perekat seperti semen untuk membuat seluruh strukturnya berdiri.
Sementara pada bangunan lain, penggunaan mortar atau bahan perekat memang dapat ditemukan.
Bahkan teknologi ini masih diteliti sampai sekarang
Menariknya, penelitian terhadap mortar berbahan putih telur belum berhenti sebagai kajian sejarah.
Pada 2026, penelitian yang diterbitkan di jurnal Materials Advances dari Royal Society of Chemistry menguji mortar berbasis kapur yang dimodifikasi menggunakan putih telur dan bubuk kulit telur untuk kebutuhan konservasi bangunan bersejarah.
Penelitian tersebut menemukan bahwa putih telur membantu mempertahankan kemampuan kerja mortar dan dapat mengurangi masuknya air melalui struktur pori mortar.
Artinya, ketertarikan terhadap bahan konstruksi tradisional bukan sekadar romantisme terhadap masa lalu.
Para ilmuwan memang sedang mencoba memahami mengapa bahan-bahan tradisional tertentu bisa bekerja dan bagaimana prinsipnya dapat digunakan dalam konservasi bangunan bersejarah.
Kesimpulan: mitosnya ada, tetapi faktanya lebih menarik
Jadi, apakah orang zaman kerajaan menggunakan putih telur untuk konstruksi?
Ya, penggunaan putih telur dalam mortar tradisional memang memiliki bukti ilmiah di beberapa tradisi konstruksi dan terdapat pula contoh sejarah di Nusantara yang mencatat penggunaannya.
Tetapi apakah kita boleh mengatakan bahwa semua batu bata candi di Jawa direkatkan menggunakan putih telur?
Tidak.
Untuk Borobudur, bukti yang ada justru menunjukkan penggunaan teknik sambungan dan sistem interlock, bukan perekat putih telur. Untuk beberapa bangunan bata Jawa Kuno, terdapat pula bukti atau keterangan mengenai penggunaan serbuk bata dan teknik konstruksi lainnya.
Jadi, teknologi nenek moyang kita sebenarnya jauh lebih menarik daripada sekadar cerita “candi dibangun pakai putih telur”.
Mereka tidak memiliki semen Portland seperti sekarang, tetapi mereka memiliki pengetahuan tentang material, sambungan, gaya tekan, kelembapan, dan teknik penyusunan yang disesuaikan dengan bahan serta kondisi lingkungan.
Dan justru di situlah nilai sebenarnya dari teknologi konstruksi masa lalu:
bukan karena mereka memiliki satu bahan ajaib, tetapi karena mereka memahami bagaimana berbagai bahan bekerja bersama.
Download APK Lunalink - Pemborong Pintar
Download
1 orang menyukai ini
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!